TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Masyarakat sipil Pasifik: “Pemerintah Australia remehkan masa depan kami”
  • Selasa, 07 Februari 2017 — 05:04
  • 1741x views

Masyarakat sipil Pasifik: “Pemerintah Australia remehkan masa depan kami”

“Pemerintah anda tahu persis bagaimana dampak perubahan iklim terhadap masyarakat dan kawasan kami (Pasifik), namun dengan sadar kebijakan pembukaan tambang batu bara baru dan pembangkit listrik tenaga batu bara akan berdampak jangka panjang yang membahayakan masa depan kami dan anak cucu,” ujar Krishneil Narayan
Kampanye dukung Pasifik untuk melawan perubahan iklim pada COP21 - talanoa.com.au
Zely Ariane
[email protected]
Editor :
LipSus
Features |
Kamis, 31 Januari 2019 | 11:00 WP
Features |
Rabu, 30 Januari 2019 | 10:08 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Sebuah surat terbuka dari Pacific Islands Climate Action Network (PICAN) diserahkan kepada Duta Besar Australia untuk perubahan iklim, Patrick Suckling, Jumat (3/2/2017).  Mereka memrotes kebijakan pemerintah Australia yang meneruskan pembukaan tambang batu bara dan  industri pembangkit listrik batu bara baru.

Patrick Suckling dikabarkan mengunjungi Suva minggu lalu dan melakukan pembicaraan bilateral dengan pemerintah Fiji. Sementara Fiji adalah presiden Konferensi Para Pihak untuk Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB (UNFCCC).

 “Pemerintah anda tahu persis bagaimana dampak perubahan iklim terhadap masyarakat dan kawasan kami (Pasifik), namun dengan sadar kebijakan pembukaan tambang batu bara baru dan pembangkit listrik tenaga batu bara akan berdampak jangka panjang yang membahayakan masa depan kami dan anak cucu,” ujar Krishneil Narayan, Koordinator PICAN dalam rilis yang diterima Redaksi Jubi Senin (6/2/2017).

Mereka juga memrotes Duta besar Australia tersebut karena secara personal mendorong perusahaan energy India, Adani, melakukan investasi  skala besar di proyek Galilee Basin di Queensland. Bahkan sejak masih menjabat sebagai Duta Besar untuk India dia juga sudah mempromosikan 60 juta ton batubara panas pertahun selama 60 tahun sebagai proyek yang “luar biasa”.

Tahun-tahun belakangan ini, kawasan Pasifik sudah dilanda topan dengan kekuatan tak terkira. Tahun lalu melanda Fiji, tahun 2015 menghantam Vanuatu, topan skala lima tersebut telah membunuh lusianan orang, merusak kota-kota dan kampung serta membuat orang bertambah miskin. Hal ini, lanjut mereka, merupakan kenyataan perubahan iklim yang sangat brutal.

“Baru saja minggu lalu Australia bilang akan mendukung Fiji dalam program pasca Topan Winston, sebagai bagian komitmen anda atas perubahan iklim. Anda juga mengakui bahwa perubahan iklim menyumbang penyebab atas tambah kuatnya topan. Tapi kami minta anda bertindak lebih dengan menangani penyebab badai ini makin berbahaya,” tegasnya.

Bagi PICAN, jika bangsa-bangsa penyebab polusi (poluter) utama tidak juga bertindak maka badai yang semakin berbahaya, kerusakan terumbu karang, lautan yang makin asam, curah hujan berubah drastis, kagagalan panen, kesulitan air minum, meningkatnya permukaan laut dan erosi pantai akan menjadi bencana hebat ke depan.

Satu-satunya cara menghentikan laju pemanasan global adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dan mulai membangun ekonomi nol emisi. Karena dunia sekarang memiliki batasan terhadap karbon yang bisa dilepas ke udara, sejak suhu bumi sudah lebih panas melewati 1.5°C di atas rata-rata masa pra industri.

Melampaui batasan ini akan mengancam eksistensi bangsa-bangsa di Pasifik seperti Kiribati, Tuvalu, dan Kepulauan Marshall.

Guna menjaga pemanasan global hingga 1.5°C mayoritas cadangan batubara dunia harus tetap di dalam tanah, tidak lagi dieksploitasi. Hal ini, tegas PICAN bukan lagi soal debat politik melainkan kenyataan ilmiah. Oleh karena itu para pemimpin Pasifik terus menyerukan moratorium internasional terhadap industry-industrai berbasis ekstraktif berbahan bakar fosil, khususnya tambang batu bara baru.

Australia sudah menjadi eksportir tambang terbesar dunia. Dan Kamis lalu mereka mengumumkan akan meningkatkan ekspor batu bara dengan subsidi publik dan infrastruktur yang dibiayai para pembayar pajak bagi perusahaan pertambangan baru.(*)

loading...

Sebelumnya

Pasifik prihatin atas sikap AS terkait perubahan iklim

Selanjutnya

Frustasi sosial, picu lonjakan kasus kekerasan domestik di Kepulauan Cook

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe