Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Masyarakat asli kurang terwakili dalam karya seni di dunia
  • Senin, 27 Februari 2017 — 06:06
  • 1116x views

Masyarakat asli kurang terwakili dalam karya seni di dunia

Huddleston menjelaskan semakin banyak seniman-seniman Pasifik saat ini yang menampilkan isu-isu seputar kolonisasi, ras, gender, dan identitas.
Kolaborasi penampilan antara Leafa dan dua puterinya Faith Wilson dan Olive Wilson. Penampilan tersebut mengambil judul FILI – RNZI/Harry Culy
RNZI
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Selasa, 18 Desember 2018 | 16:32 WP
Features |
Senin, 17 Desember 2018 | 13:10 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Auckland, Jubi – Kurangnya representasi perempuan-perampuan masyarakat asli di seluruh dunia tetap menjadi isu relevan hari ini seperti 30 tahun lalu.

Hal itu menjadi tema yang diangkat melalui karya seni enam seniman perempuan dalam sebuah pameran kolaborasi yang dibuka di Auckland, Selandia Baru Kamis (23/2) lalu .

‘'Still, Like Air, I'll Rise' (Masih, Seperti Udara, Aku Akan Bangkit) adalah karya seni dari perempuan-perempuan non-kulit putih dan dua seniman Pasifik yang juga menyoroti isu-isu representasi dikalangan perempuan-perempuan masyarakat asli.

Tema pameran itu terinspirasi oleh tulisan penyair Amerika dan aktivis hak-hal sipil Maya Angelou yang sering kali bicara terkait daya tahan dibawah penindasan rasial dan isu-isu gender.

Kurator Abby Cunnane menjelaskan bahwa pameran itu mengampil pesan dari karya seni tahun 1990 oleh seniman Lisa Reihana, sebagai titik berangkat untuk membicarakan rasisme, isu-isu gender dan kolonisasi.

“Kami memikirkan banyak tema dari karya seni ini yang masih sangat relevan dalam karya-karya seni kontemporer seperti yang dibuat oleh artis termuda di pameran ini, Esther Ige,” ujarnya.

Charlotte Huddleston juga mengkurasi proyek tersebut dan mengatakan sangat sedikit kemajuan yang terjadi seputar gender, ras, dan isu-isu identitas di kalangan perempuan-perempuan masyarakat asli selama 30 tahun terakhir.

“Di seluruh dunia terdapat isu serupa dan memang cukup sama. Jadi memang itulah bagian dari alasan kami menyelenggarakan pameran ini karena isu-isu ini masih mendesak dan perlu dipersoalkan terus dalam berbagai format dan cara,” kata Huddleston.

Seniman multimedia Samoa, Leafa Wilson membuka pameran itu dengan performa seni selama dua jam.

Dia menggambarkan karyanya sebagai karya non-skrip, seni visual tak terencana dengan menggunakan tubuhnya. Wilson menampilkan perjuangannya ditengah kurangnya representasi perempuan-perempuan kulit berwarna.

“Saya kita perempuan non-kulit putih, terus menerus diabaikan atau mencoba dan seringkali berjuang lebih keras bahkan agar suara atau karya seninya mau ditonton orang. Perwajahan kami, para perempuan masyarakat asli secara umum dalam karya seni internasional masih sangat ditekan, dan situasi itu memang pertempuran, sebuah pertempuran terus menerus,” ujarnya.

Wilson melakukan performa dengan dua nama, ‘Leafa Wilson’ dan ‘Olgar Krause’, merupakan nama lahirnya yang menunjukkan peranakan Jermannya.

“Saat orang dengar nama ‘Olgar Krause’ ada ekspektasi tertentu di diri mereka, sampai mereka lihat saya dan respon mereka semacam ‘oh, okay’,” kata dia.

Wilson menekankan, dirinya menggunakan dua nama itu untuk mengkolonisasi nama tersebut. “Saya sedang mengkolonisasi sebagian dari Jerman sebagai wujud ‘rasa terhadap realita’ tentang siapa saya. Dan bagian Samoa di diri saya lebih dominan,” ujarnya.

Huddleston menjelaskan kenyataan banyak seniman-seniman Pasifik saat ini yang menampilkan isu-isu serupa seputar kolonisasi, ras, gender, dan identitas.

“Banyak artis keturunan Pasifik yang bekerja dengan cara itu, beberapa diantaranya sangat kentara dibanding yang lain, namun lagi-lagi isunya menyentuh persoalan praktik-praktik kebudayaan dan identitas tertentu yang kontemporer.”(*)

loading...

Sebelumnya

Pemimpin Partai Demokrat AS puji kinerja Faleomavaega

Selanjutnya

Pelecehan anak di penjara Nauru, Komisi Kerajaan tak punya kuasa inspeksi

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23518x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19201x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15654x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12725x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe