Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. DAP : Jaga tradisi, butuh kurikulum lokal
  • Minggu, 26 Maret 2017 — 08:06
  • 4437x views

DAP : Jaga tradisi, butuh kurikulum lokal

"Kami minta Pemda mengaktifkan pendidikan adat yang dulunya sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Balim seperti pesta Mawi, pesta Inisiasi anak laki-laki serta lagu adat Papua dimasukkan sebagai satu kurikulum lokal," kata Dominikus.
Rapat Pleno Dewan Adat Lapago di Wamena, Sabtu (25/3/2017) - Dok. DAP Lapago
ANTARA
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Wamena, Jubi - Dewan Adat Wilayah Balim (La Pago) Provinsi Papua meminta Pemerintah Daerah (Pemda) setempat mengaktifkan pendidikan adat mulai dari bahasa daerah, seni ukir, menyulam hingga menganyam noken dalam kurikulum lokal di semua tingkatan pendidikan.

Sekretaris Dewan Adat Wilayah Balim Dominikus Surabut di Wamena, Sabtu (25/3/2017), mengatakan dari hasil pleno dewan adat wilayah Balim terlahir beberapa poin pembangunan masyarakat adat salah satunya pada bidang pendidikan.

"Kami minta Pemda mengaktifkan pendidikan adat yang dulunya sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Balim seperti pesta Mawi, pesta Inisiasi anak laki-laki serta lagu adat Papua dimasukkan sebagai satu kurikulum lokal," kata Dominikus.

Menurut dia, kesepakatan bersama masyarakat adat itu akan disampaikan kepada pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat.

"Mungkin minggu depan saya tawarkan ini untuk dimasukkan dalam kurikulum," katanya.

Ia menjelaskan poin ini merupakan kesepakatan bersama masyarakat adat dari Suku Yali, Hubula dan Lani dalam pleno Dewan Adat Wilayah Balim yang dilaksanakan tanggal 21-23 Maret 2017 dan menghadirkan sekitar 150 anggota.

"Rapat Pleno Adat itu dilaksanakan di Gedung Sosial Katolik (Soskat) Wamena," katanya.

Persoalan lain yang akan disampaikan kepada pemerintah untuk menjadi perhatian, menurut dia, terkait dengan tingginya angka putus sekolah di wilayah itu. (*)

loading...

Sebelumnya

Dulu terpuruk, kini jadi pengusaha sukses

Selanjutnya

Solidaritas Kendeng, mahasiswa asal Papua ikut cor kaki

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34047x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18726x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17594x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe