Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. "Seperti Bom Nuklir", Kolera dan kehancuran setelah badai di Haiti
  • Selasa, 11 Oktober 2016 — 13:27
  • 1287x views

"Seperti Bom Nuklir", Kolera dan kehancuran setelah badai di Haiti

Di pantai, mayat seorang pria tergeletak di bawah terik matahari. Beberapa ratus meter di sebelah kirinya di selokan tepi jalan, tiga kambing mati terendam di lumpur beracun. "Bagi saya ini nampak seperti ledakan bom nuklir," kata Paul Edouarzin, karyawan Program Lingkungan PBB yang bermarkas di dekat Port-a-Piment.
Wabah kolera yang meningkat setiap hari mengancam korban badai haiti - abcnews.go.com
ANTARA
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 00:09 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Port-a-Piment, Jubi - Penderita tiba setiap 10 atau 15 menit, dibawa dengan sepeda motor oleh kerabat dengan bahu diselimuti bekas muntahan dan diangkat melalui tangga ke rumah sakit Port-a-Piment Haiti, tempat mereka bisa mengistirahatkan tubuh lemah akibat kolera.

Kurang dari sepekan sejak badai Matthew menghantam Haiti, telah menewaskan setidak-tidaknya 1.000 orang menurut hitungan pejabat setempat.

Pada Minggu (9/10/2016) pagi, jalanan utama di barat daya Haiti sudah bisa dilalui mobil. Telah terdapat 39 orang penderita kolera, kata direktur kesehatan rumah sakit tersebut, Missole Antoine. Hingga siang, penderitanya meningkat capai 60 orang, dan empat pasien telah meninggal akibat penyakit ditularkan lewat air itu.

"Jumlah itu akan meningkat," kata Antoine, sambil berjalan di antara pasien-pasien yang terbaring di lantai rumah sakit.

Meskipun ada 13 kasus kolera sebelum Matthew melanda, Antoine mengatakan, kasusnya meningkat drastis sejak badai menghancurkan kawasan yang sangat miskin itu.

Rumah sakit kekurangan ambulans, atau bahkan mobil, dan Antoine mengatakan banyak pasien baru datang dari lokasi yang jauh, dan dibawa anggota keluarganya beserta tempat tidur dari kamp.

Di dalam rumah sakit, para orang tua berwajah muram memeluk anak-anak kecil dengan mata cekung dan tidak sanggup mengangkat kepala mereka sendiri.

"Saya percaya pada dokter, dan juga pada Tuhan," kata Roosevelt Dume (37) sambil menggendong anak lelakinya, Roodly, dan mencoba tetap optimistis.

Tanaman pisang di kawasan itu hancur dengan kebun pisang raja yang luas rata dengan tanah. Masyarakat hanya bergantung pada kelapa yang jatuh untuk makanan dan minuman, karena bantuan pemerintah maupun asing tidak segera datang.

Bau busuk mayat, manusia maupun hewan, tercium dimana-mana.

Di desa Labei dekat Port-a-Piment, warga setempat mengatakan arus sungai menghanyutkan mayat-mayat dari desa-desa di hulu. Tanpa ada yang datang memindahkan mayat-mayat itu, warga menggunakan papan kayu apung untuk mendorong mereka masuk sungai sehingga bisa mengalir ke laut.

Di pantai, mayat seorang pria tergeletak di bawah terik matahari. Beberapa ratus meter di sebelah kirinya di selokan tepi jalan, tiga kambing mati terendam di lumpur beracun.

"Bagi saya ini nampak seperti ledakan bom nuklir," kata Paul Edouarzin, karyawan Program Lingkungan PBB yang bermarkas di dekat Port-a-Piment.

Warga terkena diare di desa Chevalier sudah mengetahui wabah kolera di dekat mereka, namun tidak memiliki banyak pilihan selain meminum air payau dari sumur setempat yang mereka yakini sudah terkontaminasi bangkai ternak.

"Kami ditelantarkan oleh pemerintah yang tidak pernah memikirkan kami," kata Marie-Ange Henry sambil memeriksa rumahnya, yang hancur.

Pastor Pierre Moise Mongerard bergantung pada bantuan Tuhan untuk menyelamatkan gerejanya, yang tanpa atap, di desa Torbeck. "Kami berharap Tuhan memberi kami peluang untuk membangun kembali gereja dan membantu para korban di kawasan ini," katanya, sebelum musik menelan suaranya, dan ia perlahan bergabung dalam kidung, menutup matanya dan menengadahkan tangannya ke langit.(*)

loading...

Sebelumnya

Desmond Tutu: Saya mau akhiri hidup dengan cara terhormat

Selanjutnya

Banjir pasca Badai Matthew, korban tewas bertambah

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 33964x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18232x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17321x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksion[email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe