Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Mendikbud lepas 6.296 Guru Garis Depan ke daerah 3T
  • Rabu, 13 September 2017 — 07:32
  • 1516x views

Mendikbud lepas 6.296 Guru Garis Depan ke daerah 3T

" Di Papua, guru yang mengajar di desa hanya ada satu atau dua orang. Kalau di kota banyak. Sekolah sangat membutuhkan guru, makanya saya memilih penempatan Papua karena kasihan dengan anak-anak di sana," kata Azhar.
Ilustrasi lokasi SMPN 1 Sawiat, Sorong Selatan - kemdikbud.go.id
ANTARA
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jakarta, Jubi - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melepas sebanyak 6.296 guru garis depan (GGD) ke daerah penempatannya di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

"Hari ini, kami melepas sebanyak 6.296 GGD. Mereka akan mengajar di daerah 3T," ujar Mendikbud di Jakarta, Selasa (12/9/2017).

Mendikbud dalam sambutannya mengatakan bahwa para guru GGD itu, layaknya pasukan khusus yang ada di militer sehingga dia yakin para guru itu akan mampu bertahan di daerah 3T yang jauh dari kenyamanan.

Kuota awal dari GGD itu sebanyak 7.000 guru, namun yang lulus hanya 6.296. Sedangkan yang sudah menerima surat keputusan sebanyak 5.897 guru.

Para guru itu akan mengabdi di daerah penempatan minimal 10 tahun. Meski demikian, Mendikbud yakin para guru itu akan betah di daerah penempatan.

Seorang guru GGD, Muhammad Azhar, mengatakan dirinya siap untuk mengabdi di daerah penempatan meskipun di kondisi yang serba kekurangan. Azhar ditempatkan di SMPN 1 Sawiyat, Sorong Selatan,Papua Barat.

" Di Papua, guru yang mengajar di desa hanya ada satu atau dua orang. Kalau di kota banyak. Sekolah sangat membutuhkan guru, makanya saya memilih penempatan Papua karena kasihan dengan anak-anak di sana," kata Azhar.

Azhar yang berasal dari Makassar itu menyadari bahwa di Sawiyat, ia akan hidup serba kekurangan. Di daerah itu belum ada listrik, tidak ada sinyal telepon seluler dan kekurangan air bersih.

"Tidak apa-apa, paling hanya satu hingga dua bulan tidak betahnya. Sesudah itu, menyesuaikan," cetus Azhar yakin.(*)

loading...

Sebelumnya

Polisi proses aduan terhadap pembuat film The Mahuze’s

Selanjutnya

Komunike PIF ke-48: isu HAM Papua sentral dalam hubungan dengan Indonesia

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34058x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18921x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17637x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe